Skip to main content
sinar-bangun-tenggelam

KM Sinar Bangun Tenggelam di Danau Toba, Ini yang Harus Dibenahi!

Peristiwa KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Senin (18/6/2018) masih memendam duka mendalam. Dari laporan sementara 18 orang selamat, 4 orang tewas dan 189 orang masih hilang akibat KM Sinar Bangun tenggelam. Data korban hilang berdasarkan pengaduan maupun laporan masyarakat ke posko yang ditempatkan di dua daerah Tigaras (Kabupaten Simalungun) dan Simanindo (Kabupaten Samosir).

Persoalan jumlah korban yang hilang memang masih simpang siur. Soalnya tak ada daftar manivestasi (jumlah penumpang) yang tercatat sebagai penumpang KM Sinar Bangun yang karam di Danau Toba yang konon memiliki kedalaman hingga 505 meter itu.

Di sinilah letak persoalannya! Saya sebagai warga Sumatera Utara kelahiran Pematangsiantar yang punya kampung leluhur di Tolping Kabupaten Samosir sudah sering melintasi Danau Toba dengan kapal kayu sejenis KM Sinar Bangun yang tenggelam itu. Tak cuma kapal kayu, saya juga sering menumpangi kapal Ferry baik rute dari Tomok-Ajibata (pp) maupun rute Tigaras-Simanindo (pp).

Memprihatinkan Fasilitas Keselamatan Kapal

Sejak dulu sampai sekarang fasilitas keselamatan untuk penumpang yang disiapkan kapal-kapal penyeberangan di Danau Toba memang cukup memprihatinkan. Sejujurnya, banyak kapal-kapal yang nekat berlayar meski tanpa dilengkapi pelampung. Itu masih dari satu sisi, yakni pelampung. Belum lagi persoalan jumlah penumpang yang selalu serat muatan dan melebihi tonase. Hal lain, persoalan mesin kapal yang sering tidak memadai, para pengusaha maupun nakhoda kapal nekat saja beroperasi. Maka tak jarang kita sering mengalami mesin kapal tiba-tiba mati di tengah danau. Penyebabnya mungkin kehabisan bahan bakar, kerusakan mesin, rantai putus, setir yang tidak berfungsi dan masih banyak persoalan dengan segala tetek bengeknya yang tak bisa diurai di tulisan ini.

Peristiwa KM Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba sejatinya tak perlu terjadi lagi. Beberapa tahun silam, kasus serupa sudah pernah terjadi. Ya, KM Peldatari yang karam di Danau Toba. Dalam peristiwa itu banyak korban meninggal dunia, begitu pun dengan korban hilang hingga kini belum ditemukan. Kalau tak salah ingat, ketika itu musim Pesta Danau Toba. Maka peristiwa Peldatari dikaitkanlah dengan mistis momentum Pesta Danau Toba. Padahal Peldatari tenggelam semata-mata over tonase atau kelebihan muatan. Begitupun sejumlah peristiwa kecelakaan lalulintas yang terjadi di Danau Toba, sudah sering terjadi, dan (mungkin) kalau tak segera dibenahi kasus-kasus serupa akan lebih sering terjadi lagi.

Dalam artikel ini, saya tak ingin mengulas KM Peldatari karam atau KM Sinar Bangun tenggelam. Tapi bagaimana upaya kita secara bersama-sama dapat meminimalisir kasus serupa, agar ke depan angka kecelakaan bisa ditekan sekecil mungkin.

1. Maksimalkan Tupoksi Dinas Perhubungan!

Sejujurnya, terkait sejumlah kasus kecelakaan kapal yang terjadi di Danau Toba, saya bingung juga apa sebenarnya tupoksi (tugas, pokok dan fungsi) Dinas Perhubungan. Konon Dinas Perhubungan meng ‘uji KIR’ setiap armada angkutan yang beroperasi. Tapi apa itu ‘uji KIR’? Saya dan mungkin masih banyak orang yang tak faham apa itu ‘uji kir’. Tapi defenisi ‘uji kir’ di sini kira-kira maksudnya tentang Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor. Persoalannya: sudahkah Dinas Perhubungan di setiap daerah melakukan ini?

Ini sekadar masukan untuk setiap Dinas Perhubungan yang ada. Silakan cek, saya berani bertanggungjawab: banyak kapal-kapal di Danau Toba yang tak laik operasi. Para nakhoda dan pengusaha kapal seenak perutnya beroperasi mencari penumpang tanpa memikirkan keselamatan penumpangnya. Rasanya Dinas Perhubungan tak pernah merazia kapal-kapal yang beroperasi di Danau Toba. Tapi kalau di daratan, Dinas Perhubungan ini selalu rajin razia truk-truk yang melebihi tonase. Oknum petugas Dinas Perhubungan sering terima ‘salam tempel’ dari para sopir truk? Kalau ini yang terjadi celaka 12!

Silakan cek ke kapal Danau Toba, seluruh standar, termasuk jumlah muatan, mesin, dan hal-hal yang dianggap perlu. Ini akan sangat membantu menjamin keselamatan konsumen.

2. Halo, dimana Polisi Air?

Sejujurnya, saya bingung juga. Ternyata tak cuma di udara. Di air penyeberangan (Danau Toba) saya tidak pernah temukan polisi air yang hilir mudik di sana. Tapi kalau di darat, ampun deh!. Para polisi kita selalu rajin razia, bukan? Ada apa ini? Justru sebenarnya penyeberangan Danau Toba ini sangat rawan, sudah saatnya polisi air berperan. Jadi manakala ada kecelakaan seperti KM Peldatari maupun KM Sinar Bangun, petugas tidak kalang kabut. Tidak susah kok. Setiap Polres di daerah tinggal menempatkan saja personilnya di perairan Danau Toba seperti Polres Samosir, Polres Simalungun, Polres Dairi, Polres Tobasa dan Polres Tanah Karo.

Peristiwa KM Sinar Bangun tenggelam sebenarnya tidak perlu terjadi, apalagi peristiwa nahas ini terjadi saat perayaan Idul Fitri. Ini pelajaran berharga, bahwa petugas jangan menumpuk di daratan saja, di Danau Toba juga Polisi Air dibutuhkan kok.

3. Tempatkan Petugas BNPB!

Danau Toba milik dunia, Presiden Jokowi sudah turun tangan untuk meminta agar kasus serupa tidak terulang lagi. Jadi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sudah selayaknya hilir mudik dan ‘stand by’ di Danau Toba. Sialnya, ketika kecelakaan saja BNPB kelihatan batang hidungnya. Itu pun datangnya selalu telat. Kalau tak ada kecelakaan, BNPN tak pernah terlihat di Danau Toba.

Jadi posisi BNPB ini penting dan strategis. Ingatlah Danau Toba salah satu obyek wisata milik dunia. Bagaimana mungkin para turis dari mancanegara sana datang lagi ke sini kalau tahu Danau Toba rawan dan sudah tak ada rasa aman? Mimpilah!

4. Kapal Ferry Beda Tipis dengan Kapal Kayu?

Persoalan inilah sejak lama ingin saya sampaikan. Secara pribadi saya ingin bertemu langsung dengan sosok pengusaha swasta kapal Ferry KMP Tao Toba I dan II jurusan Tomok (Kabupaten Samosir) – Ajibata (Simalungun/Tobasa). Konon pengusahanya marga Sitanggang, seorang anggota DPR RI. Entah sekarang masih anggota DPR Ri atau tidak saya pun tak ada kabar lagi. Hal yang ingin saya sampaikan agar pengusaha kapal melengkapi fasilitas keselamatan kapal Ferry. Termasuk sekoci (perahu kecil mirip di film Titanic berkapasitas 10-15 orang). Setidaknya pengusaha bisa menyiapkan 4 unit sekoci di Kapal Ferry ini. Begitupun dengan pelampung.

Memang sejauh pengamatan saya, di bagian lantai atas Kapal Ferry ini terlihat banyak pelampung berwarna orange. Cuma apakah itu dalam kondisi rusak atau baik, saya pun tak tahu. Pengusaha maupun petugas Kapal Ferry sejatinya mengecek secara rutin kondisi pelampung itu. Tapi saya masih tetap yakin, petugasnya tak pernah mengecek kondisi pelampung itu. Hehehe!

Dari sisi fasilitas, antara Kapal Ferry dan kapal kayu hanya ‘beda tipis’. Pembeda kedua kapal ini, praktis hanya daftar manivestasi (jumlah penumpang). Di Kapal Ferry jumlah manivestasinya jelas dan tercatat: berapa orang penumpang, berapa mobil, berapa sepedamotor, sedang di kapal kayu jumlah penumpangnya termasuk muatan lainnya tak pernah terdata. Maka seenak perut mereka saja menaikkan penumpang, tak memikirkan keselamatan penumpang!

Jadilah Konsumen Kritis

Terakhir, saran saya untuk kita semua, sebagai konsumen. Mari berpikir kritis. Kalau kira-kira kapal sudah over tonase, sebaiknya jangan naik ke kapal itu. Silakan tegur nakhodanya atau petugas kapalnya. Katakan pada mereka bahwa kapal ini sudah melebihi muatan. Naikilah kapal di anteran selanjutnya.

Tapi terkadang, konsumen kritis biasanya akan menuai kritik juga. Terlebih ini di kawasan ‘halak hita’. Sedikit saja diprotes, yang diprotes malah cepat tersinggung. Jika kondisinya terus begini, bagaimana mungkin Danau Toba bisa bersaing dengan obyek wisata Bali? Mimpilah! (dps)

Share yuk..

Pandapotan Silalahi

Melihat situasi dan menuliskan situasi itu.

One thought to “KM Sinar Bangun Tenggelam di Danau Toba, Ini yang Harus Dibenahi!”

  1. Penjarakan petugas di sana . . . Memang sangat tdk tertib aparat disana . Banyak BODAT NYA DARI PD MANUSIA NYA .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.